Social Icons

Wednesday, December 12, 2012

Gairah Seks Menurun Setelah Anak Lahir

Penelitian baru mengungkapkan pasangan yang baru menjadi orang tua atau memiliki anak berdampak pada hubungan seksualitas keduanya yang menurun.

Setidaknya enam dari 10 pasangan orang tua baru yang dilibatkan dalam penelitian itu mengaku, intensitas hubungan seks mereka menjadi berkurang dibanding ketika belum memiliki anak, dan bahkan justru lebih sering berdebat.

Lebih dari enam dari tiap 10 orang tua mengatakan bahwa hubungan intim mereka memburuk sejak memiliki anak. Sebanyak 28% mengaku berhubungan seks hanya sekali sebulan, lima persen mengaku hanya setahun sekali, dan tujuh persen bahkan tidak melakukan sama sekali.

Parahnya hampir empat dari setiap 10 ibu dan ayah baru itu mengaku karena melihat pasangan mereka menjadi kurang menarik setelah memiliki anak sehingga menurunkan gairah seksual. Sebanyak 63% mengaku kehidupan seks mereka memburuk.

Sementara sebanyak 61% mengaku kualitas seks mereka menurun akibat tidak adanya waktu untuk bercinta. Waktu mereka kini lebih banyak tersita untuk mengasuh anak sehingga terkadang hanya ada waktu sekali dalam sebulan.
Survei yang dilakukan oleh sebuah lembaga pengasuhan bernama Yano menunjukkan 42% perempuan mengaku tidak tertarik pada suami atau pasangan mereka setelah melahirkan.

Selain itu faktor lain menurunkan aktivitas seksual mereka yaitu karena tekanan keuangan yang meningkat untuk kebutuhan anggota keluarga baru dan tekanan pekerjaan rumah tangga yang bertambah.

Patrick Wanis, konsultan hubungan rumah tangga mengatakan, orang tua tidak harus mengorbankan hubungan mereka untuk anak-anak dan disarankan tetap menempatkan gaya dan kebiasaan pernikahan mereka dulu.

"Masih berbagi harapan dan impian, masih menginginkan yang terbaik bagi satu sama lain, masih meluangkan waktu untuk menikmati setiap aktivitas. Anak-anak berkembang dalam cinta rumah tangga yang terbuka dan kasih sayang antara orang tua. Tetapi ketika orang tua mengabaikan satu sama lain, anak-anak akhirnya menderita sebagai pernikahan berantakan," ujarnya.

Jo Hemmings, psikolog, mengatakan: "Ketika Anda membuat transisi dari kekasih kepada ibu atau ayah, semuanya berubah; cara masyarakat memandang Anda untuk prioritas Anda untuk sejumlah kebebasan yang Anda miliki sebelumnya,” tandasnya seperti dilansir dari the telegraph.

No comments:

Post a Comment