Perempuan sering tidak menyadari gangguan kesehatan terutama sekali
pada bagian intimnya dan biasanya diketahui setelah terlambat. Penyakit
yang paling mengancam wanita Indonesia tak lain adalah kanker mulut
rahim. Selain itu penyakit kerusakan otot dasar panggul terjadi pada 50%
perempuan yang pernah melahirkan secara normal.
Walaupun tidak menyebabkan kematian, namun keluhan gangguan dasar
panggul menyebabkan kualitas hidup perempuan menjadi menurun. Salah satu
keluhan pada gangguan dasar panggul adalah sering atau sulit buang air
kecil sampai pada disfungsi seksual. Untuk itulah, Indonesian Dutch
School Foundation (IDSF) mengadakan serangkaian kegiatan kampanye
“Indonesian Women Speak Up”.
"Women Speak Up adalah kegiatan untuk menggerakkan para perempuan
agar peduli dan tidak malu menceritakan masalah kesehatannya, termasuk
organ intim mereka dan memeriksakan-nya secara rutin, sebelum
terlambat”, tutur Michael Suryadisastra, Direktur Eksekutif IDSF, kepada
Gatranews, Senin (3/12).
Rangkaian kegiatan yang dilaksanakan Minggu silam ini (25/11)
dilakukan bersama baik oleh Member of Honorary Board IDSF dari Belanda
dan Indonesia termasuk juga dokter dan perawat dari kedua negara yang
didukung oleh 500 perempuan dengan melakukan Dancing Walk-Walking Dance,
jalan sehat sambil berdansa.
Kampanye “Indonesian Women Speak Up” dibarengi dengan layanan
konsultasi bersama dokter-dokter ahli, yang siap sedia untuk
mendengarkan dan memberikan saran seputar kesehatan reproduksi
perempuan, penyuluhan bagaimana melakukan senam dasar panggul di tengah
kesibukan para perempuan yang aktif, dan penyuluhan tentang menjaga
kualitas hidup pada penderita kanker.
Menurut Michael, baik kanker dan kerusakan otot dasar panggul dapat ditangani, jika seandainya para perempuan tidak malu dan malas untuk cepat mengatakan dan menyampaikan kepada teman, keluarga atau mengkonsultasikannya langsung ke dokter. Seperti pada penderita gangguan dasar panggul, hanya satu dari empat wanita yang mengalami keluhan otot dasar panggul akan datang mencari pertolongan pada tenaga medis. Hal ini disebabkan karena sebagian besar wanita
menerima kondisi ini sebagai konsekuensi wajar akibat proses kehamilan, persalinan dan bertambahnya usia. Selain itu juga karena kurangnya pengetahuan tentang masalah ini.
Yayasan IDS antara lain didirikan sebagai bentuk kepedulian dan
keprihatinan para professor ginekologi onkologi Belanda atas semakin
tingginya angka kematian pada perempuan akibat kanker organ kewanitaan
mereka, tanpa dapat dideteksi lebih dini. Masalah deteksi kanker dini
serta penyebaran informasi mengenai kesehatan organ perempuan di
Indonesia adalah masalah yang sangat pelik, ditambah lagi masalah
kurangnya jumlah dokter yang memiliki keahlian super spesialis
Ginekologi Onkologi dan Uroginekologi. Saat ini baru ada sekitar 70
orang dokter onkologi ginekologi untuk melayani sekitar 120 juta
perempuan Indonesia dan untuk mengatasi gangguan dasar panggul hanya
terdapat 35 orang dokter uroginekologi untuk melayani 120 juta perempuan
Indonesia.
Sebagai informasi, Yayasan IDS adalah sebuah yayasan non-profit yang
didirikan oleh Prof. Peter Heintz, seorang ahli ginekologi onkologi
dari UMC Utrecht, Belanda. Yayasan ini diresmikan pada tanggal 24
November 2012. Selain rangkaian acara di atas, bentuk nyata aktivitas
IDFS lainnya adalah mengirim para dokter kebidanan dan kandungan dan
perawat untuk memperdalam ilmu dan keterampilan, meningkatkan kompetensi
mereka di berbagai universitas di Belanda. IDSF juga meminta para ahli
(dokter dan perawat) di bidang onkologi dan uroginekologi dari Belanda
untuk datang ke Indonesia memberikan pelatihan kepada para tenaga medis
di Indonesia.

No comments:
Post a Comment